Disusun Oleh :
1. Dhita Ayu Ariandini
2. Dwinindita Putri
3. Lita Daniyah Agustiany
4. Faqih Ramadhan
5. Imam Nur Rasyid
Terapi Client Centered
A. Pengertian Client-Centered
Carl R.
Rogers pada tahun 1942, guru besar dan psikologi dan psikiatri, universitas
wisconsin dan dipandang sebagai bapak dari pendekatan client centered.
mengembangkan terapi client centered sebagai reaksi terhadap apa yang
disebutnya keterbatasan- keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pada
hakikatnya, pendekatan client centererd adalah cabang dari terapi humanistik
yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dan
fenomenalnya. Pendekatan client centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada
kesanggupan klien untuk mengikuti
jalan terapi dan menemukan
arahnya sendiri. Menurut Rogers terapi client centered merupakan tekhnik
konseling dimana yang paling berperan adalah klien sendiri, klien dibiarkan
untuk menemukan solusi mereka sendiri terhadap masalah yang tengah mereka
hadapi. Hal ini memberikan pengertian bahwa klien dipandang sebagai partner dan
konselor hanya sebagai pendorong dan pencipta situasi yang memungkinkan klien
untuk bisa berkembang sendiri.
Sedangkan
menurut Prayitno dan Erman Amti terapi client centered adalah klien diberi
kesempatan mengemukakan persoalan, perasaan dan pikiran- pikirannya secara
bebas. Pendekatan ini juga mengatakan bahwa seseorang yang mempunyai masalah
pada dasarnya tetap memiliki potensi dan mampu mengatasi masalahnya sendiri.
Jadi
terapi client centered adalah terapi yang berpusat pada diri klien, yang mana
seorang konselor hanya memberikan terapi serta mengawasi klien pada saat
mendapatkan pemberian terapi tersebut agar klien dapat berkembang atau keluar
dari masalah yang dihadapinya.
B. Konsep Dasar dalam terapi Client-Centered
1.
Pandangan tentang sifat manusia
Teori
Rogers tentang pandangan manusia bahwa terapi ini sering juga disebut dengan pendekatan
yang beraliran humanistik. Yang mana menekankan pentingnya pengembangan potensi
dan kemampuan secara hakiki ada pada setiap individu. Potensi dan kemampuan
yang telah berkembang itu menjadi penggerak bagi upaya individu untuk mencapai
tujuan- tujuan hidupnya.
Manusia
merupakan makhluk sosial dimana keberadaan setiap manusia ingin dihargai, dan
diakui keberadaannya serta mendapatkan penghargaan yang positif dari orang lain
dan rasa kasih sayang adalah kebutuhan jiwa yang paling mendasar dan pokok
dalam hidup manusia. Pandangan client centered tentang sifat manusia menolak
konsep tentang Hakikat manusia menurut Rogers adalah sebagai berikut:
1) Setiap manusia berhak mempunyai setumpuk pandangan
sendiri dan menentukan haluan hidupnya sendiri, serta bebas untuk mengejar
kepentingannya sendiri selama tidak melanggar hak- hak orang lain.
2) Manusia pada dasarnya berahlak baik, dapat
diandalkan, dapat dipercayakan, cenderung bertindak secara konstruktif. Naluri
manusia berkeinginan baik,bagi dirinya sendiri dan orang lain. Rogers
berpendapat optimis terhadap daya kemampuan yang terkandung dalam batin
manusia.
3) Manusia, seperti makhluk hidup yang lain, membawa
dalam dirinya sendiri kemampuan, dorongan, dan kecenderungan untuk
mengembangkan diri sendiri semaksimal mungkin.
4) Cara berfikir seseorang dan cara menyesuaikan
dirinya terhadap keadaan hidup yang dihadapinya, selalu sesuai dengan
pandangannya sendiri terhadap diri sendiri dan keadaan yang dihadapinya.
5) Seseorang akan menghadapi persoalan jika unsur-
unsur dalam gambaran terhadap diri sendiri timbul konflik dan pertentangan,
lebih- lebih antara Siapa saya ini sebenarnya (real self) dan saya seharusnya
menjadi orang yang bagaimana (ideal self).
2. Konsep
Teori Kepribadian dalam Terapi Client- Centered
Rogers
sebenarnya tidak terlalu memberi perhatian kepada teori kepribadian. Baginya
cara mengubah dan perihatian terhadap proses perubahan kepribadian jauh lebih
penting dari pada karakteristik kepribadian itu sendiri. Namun demikian, karena
dalam proses konseling selalu memperhatikan perubahan-perubahan kepribadian,
maka atas dasar pengalaman klinisnya Rogers memiliki pandangan-pandangan khusus
mengenai kepribadian, yang sekaligus menjadi dasar dalam menerapkan asumsi-asumsinya
terhadap proses konseling.
Kepribadian
menurut Rogers merupakan hasil dari interaksi yang terus-menerus antara
organism, self, dan medan fenomenal. Untuk memahami perkembangan kepribadian
perlu dibahas tentang
dinamika kepribadian sebagai berikut:
1) Kecenderungan Mengaktualisasi, Rogers beranggapan bahwa
organism manusia adalah unik dan memiliki kemampuan untuk mengarahkan,
mengatur, mengontrol dirinya dan mengembangkan potensinya.
2) Penghargaan Positif Dari Orang Lain, Self
berkembang dari interaksi yang dilakukan organism dengan realitas lingkungannya,
dan hasil interaksi ini menjadi pengalaman bagi individu. Lingkungan sosial
yang sangat berpengaruh adalah orang- orang yang bermakna baginya, seperti
orang tua atau terdekat lainnya. Seseorang akan berkembang secara positif jika
dalam berinteraksi itu mendapatkan penghargaan, penerimaan, dan cinta dari
orang lain.
3) Person yang Berfungsi Utuh, Individu yang terpenuhi
kebutuhannya, yaitu memperoleh penghargaan positif tanpa syarat dan mengalami
penghargaan diri, akan dapat mencapai kondisi yang kongruensi antara self dan
pengalamannya, pada akhirnya dia akan dapat mencapai penyesuaian psikologis
secara baik.
C.
Unsur-unsur Terapi Client-Centered
Ciri- ciri konseling berpusat pada person sebagai
berikut:
1. Focus utama adalah kemampuan individu memecahkan
masalah bukan terpecahnya masalah
2. Lebih mengutamakan sasaran perasaan dari pada
intelek
3. Masa kini lebih banyak diperhatikan dari pada masa
lalu
4. Pertumbuhan emosional terjadi dalam hubungan
konseling
5. Proses terapi merupakan penyerasian antara gambaran
diri klien dengan keadaan dan pengalaman diri yang sesungguhnya
6. Hubungan konselor dan klien merupakan situasi
pengalaman terapetik yang berkembang menuju kepada kepribadian klien yang
integral dan mandiri.
7. Klien memegang peranan aktif dalam konseling
sedangkan konselor bersifat pasif.
D.
Tujuan Terapi Client-Centered
Tujuan
dasar terapi client-centered adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha
membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh. Guna
mencapai tujuan terapi tersebut perlu mengusahakan agar klien bisa memahami
hal- hal yang ada di balik topeng yang dikenakannya. Klien mengembangkan
kepura-puraan, dan bertopeng sebagai pertahanan terhadap ancaman. Sandiwara
yang dimainkan oleh klien menghambat untuk tampil utuh dihadapan orang lain dan
dalam usahanya untuk menipu orang lain, ia menjadi asing terhadap dirinya
sendiri. Tujuan dasar dari layanan client centered yaitu sebagai berikut:
1. Keterbukaan kepada pengalaman
Keterbukaan pada pengalaman perlu memandang
kenyataan tanpa mengubah empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami
kerangka acuan internal klien, terapis memberikan perhatian terutama pada
persepsi diri klien dan persepsinya terhadap dunia.
2. Kepercayaan terhadap organisme sendiri
Salah satu tujuan terapi adalah membantu klien
dalam membangun rasa percaya terhadap diri sendiri. Pada tahap permulaan
terapi, kepercayaan klien terhadap diri sendiri dan terhadap putusan-putusannya
sendiri sangat kecil. Mereka secara khas mencari saran dan jawaban- jawaban
dari luar kairena pada dasarnya mereka tidak mempercayai kemampuan dirinya
untuk mengarahkan hidupnya sendiri.
3. Tempat evaluasi internal
Tempat evaluasi internal yang berkaitan dengan
kepercayaan diri, berarti lebih banyak mencari jawaban-jawaban pada diri
sendiri bagi masalah-masalah keberadaannya. Dia menetapkan standar- standar
tingkah laku dan melihat ke dalam dirinya sendiri dalam membuat putusan-
putusan dan pilihan- pilihan bagi hidupnya.
4. Kesediaan untuk menjadi suatu proses
Konsep tentang diri dalam proses pemenjadian, yang
merupakan lawan dari konsep tentang diri sebagai produk, sangat penting.
Meskipun klien boleh jadi menjalani terapi untuk sejenis formula untuk
membangun keadaan berhasi dan berbahagia, mereka menjadi sadar bahwa
pertumbuhan adalah suatu proses yang berkesinambungan.
E.
Tekhnik terapi Client-Centered
Secara
garis besar tekhnik terapi Client-Centered yakni:
1. Konselor menciptakan suasana komunikasi antar
pribadi yang merealisasikan segala kondisi.
2. Konselor menjadi seorang pendengar yang sabar dan
peka, yang menyakinkan konseli dia diterima dan dipahami.
3. Konselor memungkinkan konseli untuk mengungkapkan
seluruh perasaannya secara jujur, lebih memahami diri sendiri dan mengembangkan
suatu tujuan perubahan dalam diri sendiri dan perilakunya.
F.
Contoh kasus
Seorang wanita usia setengah baya datang
ke tempat praktek seorang psikolog karena memiliki permasalahan dengan
kehidupan rumah tangganya. Penampilan wanita ini cukup unik dengan rambut
berwarna dan pakaian yang serba minim. Menyikapi hal ini tentu saja psikolog
tidak boleh berprasangka terlebih dahulu seperti berpikir yang tidak-tidak
mengenai klien ini, hal ini merupakan aplikasi dari salah satu formulasi
penting menurut Roger yaitu anggapan positif tanpa syarat, di mana terapis
harus menerima keberadaan klien apa adanya tanpa pembedaan baik dan buruk.
Kemudian proses wawancara sebagai instrumen utama dilakukan, klien mulai
menceritakan masalah apa yang dihadapinya. Klien ini bercerita bahwa dirinya
kurang dapat menikmai kebahagiaan hidupnya lagi akibat tekanan dan beban hidup.
Selama mendengarkan keluh kesah klien ini, psikolog haruslah melakukan
kongruensi, menyamakan pola pikirnya dengan pola pikir klien walau mungkin
tidak sesuai, dengan anggapan bahwa klien adalah orang paling ahli dalam
kehidupan dan masalahnya. Selain itu empati juga perlu dilakukan, psikolog
mencoba ikut masuk dan merasakan apa yang dirasakan klien melalui keluh
kesahnya. Terapis menggunakan perasaannya dalam menghadapi klien, dan terapis
menjadi observer menggunakan seluruh inderanya.. Proses ini harus berjalan
dengan formal tetapi nyaman, dengan tetap memegang teguh etika.. Berikutnya
psikolog mulai merancang program intervensi, tentu saja dengan persetujuan dan
disesuaikan dengan keadaan klien, mengingat tugas psikolog / terapis adalah
sebagai fasilitator pasif yang mendorong klien untuk bertanggung jawab dalam
menentukan arah atau tindakannya sendiri dengan menciptakan iklim terapeutik.
Program terapi yang nanti dituangkan dalam informed consent terkait
frekuensi dan durasi terapi, biaya, penjadwalan, dan sebagainya. Semisal
untuk intervensi kasus ini, psikolog memilih metode terapi relaksasi sehingga
klien dapat memandang berbagai permasalahan dan beban hidupnya secara lebih
positif dan dapat menjalaninya dengan lebih optimis. Setelah itu psikolog
memberikan kata-kata penutup yang baik dan memotivasi sehingga klien dapat
pulang dengan suasana hati yang lebih nyaman dan tenang.